Aku tidak tahu apa yang ada didalam pikitan orang orang yang ada disekitarku, Aku sudah bekerja sendiri dirumah sebagai wiraswata, meski penghasilanku tidak sama dengan pegawai negeri tapi dari penghasilan itu aku bisa menghidupi anak dan istriku meski tidak mewah yang jelas kami tidak kelaparan. tapi istriku selalu menuntut aku dapat harta yang banyak sekali, selalu membelikan baju dan perhiasan, mengapa ia tidak bisabersikap menerima apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Yang pada akhirnya istriku memilih kerja disebuah perusahaan yang ada didaerah kami.
Setiap hari istriku berangkat kerja sedangkan aku menyelesaikan pekerjaanku dirumah bersama dengan anakku yang masih berumur 2,5 tahun, sampai sampai orang disekitar rumahku mengangap aku sebagai seorang pengangguran yang hanya menerima uang dari sang istri, padahal aku didalam rumah banyak sekali pekerjaan (order dari orang lain) yang harus aku kerjakan, bukan hanya itu dikala pekerjaanku sepi, banyak sekali yang aku kerjakan diluar rumah, terdang aku jualan keliling terkadang pula aku keliling mencari barang rongsokan dan masih banyak lagi yang aku kerjakan yang kesemuanya itu untuk menhidupi keluargaku.
Pada tahun kemarin mertuaku kembali kerumah dari tempat kerjanya diibu kota dan ia berniat berhenti dari tempat kerjanya dan mencari kerja disekitar daeran kami, kehadiran mertuaku tidak mnmbah perubahan karena ia juga menganggapku seperti seorang pengangguran meski ia juga sering tahu aku sering kerja lembur dirumah yang terkadang sampai pagi dan pagipun aku masih melanjutkan pekerjaanku, ya bisa dibilang aku kurang istirahat, disaat aku capek kerja badanku sakit dikira aku bohongan, bukan hanya ibu mertuaku yang menganggap seperti itu tapi istriku juga menganggap aku hanya pura - pura. Makanya aku samapai saat ini tidak pernah bilang sakit meski badanku lemas saekujur tubuhku sakit aku tak pernah bilang sakit meski kepada istriku sendiri.
Ibu mertuaku juga istriku masih menganggap aku sebagai pengangguran, apa mereka tidak berfikir kalau aku pengangguran uang dari mana yang aku berikan untuk anak dan istriku?. Hingga pada akhirnya Ibu mertuaku mencarikan pekerjaan untuk aku dan ia akan berhenti dari kerjanya dengan alasan mau mengasuh anakku, okelah aku mengalah dan setuju untuk kerja diluar rumah yang pada dasarnya gajinya sama dengan pendapatanku dirumah.
Aku mulai kerja dluar rumah pada awal bulan juni tepatnya pada tanggal 2 juni 2013, hanya selang beberapa hari kerja tepatnya tanggal 18 juni aku diangkat menjadi QC (Quality Control) ya bisa dibilang mandor kasarannya seperti itu, ya ini berkat karyawan yang ada disitu yang kebanyakan adalah mantan muridku yang mereka telah mengenal sosok diriku. Saat aku cerita pada istriku bahwa aku telah diangkat menjai mandor mungkin ia setengah percaya setengah tidak, karena aku slip gajiku belum naik, baru setelah 2 minggu baru percaya betul kalo aku sudah jadi mandor dengan melihat slip gaji yang sudah naik, tetapi tidak dengan ibu mertuaku ia tidak percaya kalo aku telah diangkat menjadi mandor, dikira itu hanya akal akalan ku saja dan tidak mungkin pegawai yang belum genap 1 bulan diangkat menjadi mandor. bagiku tak apalah oarang tidak percaya yang jelas kenyataannya seperti itu aku telah menjadi mandor.
Setiap aku dapat gaji dari perusahan yang diberikan setiap hari sabtu, aku selalu memberikan gajih itu utuh beserta slip gajinya. tapi istriku tidak pernah bertanya ada atau tidak bahan bakar yang ada disepedaku, padahal terkadang saat aku mau berangkat kerja aku bingung tidak punya uang untuk beli bensin sedangkan bensin yang ada disepedaku telah habis, terkadang aku sampai berhutang pada tukang bensin, tapi istriku sepertnya tak pernah memikirkannya